Gue tuh pecinta buku banget.
Terutama novel. Buku membuat kita mampu berimajinasi ke tempat yang tak
terjangkau walaupun secara fisik kita hanya rebahan di kamar saja.
Masih teringat novel pertama yang
gue baca adalah ciptaan Enid Blyton yaitu seri Si Kembar di sekolah asrama St.
Clare. Seketika itu juga, gue yang masih duduk di bangku SD dan masih manja
karena suka bobok dikeloni mama langsung berkhayal mendadak ingin sekolah di
asrama juga hahaha.
Setelah menuntaskan seri Si
Kembar sampai tamat gue menjelajah ke seri Enid Blyton yang lain seperti Lima
Sekawan, Malory Towers, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Si Badung! Pokoknya
hampir semua bukunya Enid Blyton sudah gue baca sampai habis, bahkan sampai
seri si Noddy pun gue baca hahaha.
Beranjak remaja gue mulai suka
membaca novel detektif yang rada berat. Sok asyik banget lah gue gemar membaca
novel tentang pembunuhan padahal mah aslinya tuh penakut dan cemen banget.
Sampai saat ini novel Agatha Christie yang gue miliki lumayan lengkap dan merupakan
koleksi yang paling sering gue baca ulang.
Setelah menikah dan memiliki
anak, gue baru menyadari bahwa betapa minim buku cerita anak produksi lokal
yang mengulas tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Masa kecil gue
dipenuhi dengan buku ciptaan Enid Blyton yang mana mengusung budaya barat
banget. Gue memang masih membaca beberapa buku lokal seperti Timun Mas,
Sangkuriang atau Malin Kundang, tapi hanya sekadar membaca saja. Duh, kok jadi
sedih yah.