Perjalanan 13 Tahun Indscript Creative

Sunday, March 15, 2020


Pernah gak sih pada suatu masa dalam hidup, merasakan kejenuhan yang teramat sangat kemudian mulai mempertanyakan kembali tentang berbagai keputusan yang pernah dibuat di masa lalu? Pernah?

Bagaikan berada di persimpangan, mengalami kebimbangan antara mengambil arah kanan, kiri, maju terus atau mundur aja ke belakang. Akhirnya karena takut melakukan kesalahan, malah jadi diam mematung di tempat dan tidak melakukan apa pun. Nah gue lagi mengalami hal itu lho!
  
Sepertinya saat ini gue sedang berada di sebuah fase di mana anak-anak sudah mulai besar sehingga tingkat ketergantungan mereka kepada gue sebagai ibu mulai menipis. Kalau dulu kemana-mana harus selalu diantar dan ditemani, sekarang mereka mulai bisa mandiri dan ingin pergi sendiri. Duh, keliyan udah gak butuh mama lagih?! *mamanya mulai drama*

Gue jadi memiliki lebih banyak waktu luang dan harus mulai cari kegiatan sendiri yang produktif supaya gak kebanyakan bengong sendiri. Tapi ya itu tadi sih, bawaannya malah jadi bimbang dan maju mundur terus. Bingung harus ngapain!

Berkunjung ke Indscript Creative

 Kunjungan ke Indscripts Creative

Kebetulan sekali beberapa waktu yang lalu gue berkesempatan untuk berkunjung ke Indscripts Creative dan akhirnya bertemu dengan sosok inspiratif Teh Indari Mastuti yang juga merupakan founder dari komunitas IIDN – Ibu Ibu Doyan Nulis. 

Mendengarkan curhat Teh Indari tentang jatuh bangun perjalanannya selama 13 tahun dalam membangun Indscript sampai menjadi sebesar ini, terasa mencerahkan bahkan membuat gue jadi malu sendiri. Yaelah, kok payah bener sih gue ini baru juga ketemu tantangan segitu doang udah berasa mentok dan berdiam diri. Bukannya maju terus menjawab semua tantangan yang ada.

Iya, kunjungan ke Indscript Creative tersebut memang berjalan dengan akrab dan penuh kehangatan. Duduk lesehan, saling curhat dari hati ke hati kemudian ditutup dengan ngebakso. Seru sekali deh!
 
Awal Mula Berdirinya Indscript 

Sebenarnya sudah lama mendengar kisah inspiratif Teh Indari wara-wiri di media sosial, tapi masih belum sempat ketemu terus nih. Makanya di pertemuan kemarin puas-puasin bertanya sembari mendengarkan curhatnya Teh Iin tentang perjalanannya seputar karir menulis yang sudah dilakukannya sejak ia masih kecil, walaupun sekadar menulis di diary.

Teh Indari Mastuti
Teh Indari meyakini bahwa menulis merupakan panggilan hatinya. Ketika masih duduk di bangku SMA Teh Indari sudah rajin mengirimkan tulisan ke berbagai majalah dan Koran. Mulai dari menulis cerpen, berbagai tips menarik bahkan menulis untuk kolom opini di Koran pun dijalaninya. Setelah berhasil mendapatkan honor dari kerja kerasnya menulis, ia semakin yakin dan maju terus untuk mengejar mimpinya.

Saat itu belum era digital seperti sekarang ini, sehingga untuk bisa menulis tidak semudah sekarang yang tinggal menyalakan laptop atau smartphone. Teh Indari harus mempergunakan mesin tik jadul untuk menulis semua artikelnya. Sebagian honor menulis dijadikan sebagai modal untuk membeli kertas HVS, amplop dan perangko balasan. Tapi walaupun perjalanannya panjang dan berliku, Teh Iin tetap rajin menulis dan mengirimkan tulisannya ke berbagai media.

Sebelum menetapkan hati untuk mendirikan Insdcript, Teh Indari sudah aral melintang menjajal berbagai profesi kepenulisan. Mulai dari marketing perusahaan sampai redaksi majalah di radio Bandung. Setelah menikah, Teh Indari memutuskan untuk fokus dalam membesarkan Indscript dengan cara mendirikan IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) dan IIDB (Ibu-Ibu Doyan Bisnis)

Perjalanan Indscript Selama 13 Tahun

Sedari awal tujuan mulia Teh Indari mendirikan Indscript Creative dan IIDN adalah untuk memotivasi para perempuan di luar sana agar bisa lebih produktif. Hempaskan saja semua energi negatif seperti perasaan kurang percaya diri dan merasa tidak mampu. IIDN hadir sebagai wadah dan bentuk dukungan bagi para perempuan kreatif yang ingin maju dan berkarya.

Iya banget sih, kalau mau sukses harus konsisten!
Teh Indari juga sempat menceritakan pengalaman pahitnya ketika Indscript mengalami kebangkrutan karena salah satu kebijakan yang diambilnya mengenai kontrak royalty. Kejadian tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Teh Indari dan membuatnya jadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Akhirnya Indscript pun berhasil bangkit kembali dari keterpurukan dan menjadi semakin kuat. Mantab!
 
Saat ini Teh Indari dan Indscript semakin maju terus dengan membuat berbagai program menarik seperti ‘Bukuin Aja’, yaitu terbitkan karya pertamamu bersama Indscript dalam bentuk buku antologi. Teh Indari sendiri juga saat ini dikenal sebagai penulis biografi tokoh-tokoh terkenal salah satunya adalah Ibu Atalia, alias si Cinta istri Kang Ridwan Kamil.

Buku terbitan Indscript
Konsep bisnis yang selama ini diterapkan oleh Teh Indari dalam mengembangkan semua lini bisnisnya yaitu 'small house high income'. Itulah salah satu alasan mengapa Teh Indari mendirikan Indscript di lantai satu dan rumah tinggal bersama keluarga di lantai atas. Suasana kekeluargaan penuh kehangatan sangat terasa di Indscript.

Memang sih, dari pada menyewa gedung hanya demi gengsi mending dana yang ada dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat kan yah. Indscript sekarang sudah memiliki mesin cetak yang bisa mempercepat proses produksi buku-bukunya. Keren sekali sih!

Senang sekali bisa berkesempatan untuk bertemu dengan sosok inspiratif seperti Teh Indari, membuat kita juga jadi ikutan semangat untuk bisa ikutan produktif juga dan berkarya!

2 comments:

  1. Teh emang anaknya udah pada gede, ya? Awet muda berarti Teh Erry ini. Hehe ... Salut banget sama Teh Indari, bagaimana perjuangannya sampai bisa keluar dari kebangkrutan dan akhirnya Indscript bisa tetep berdiri sampai sekarang. Banyak banget pelajaran kehidupan dari kisahnya Teh Indari Mastuti

    ReplyDelete
  2. Kalo aku nanti pengen buat kantor keren sih wkwk, supaya bisa nyaman dan santuy. Itu kalo aku haha, dan juga kalo bisa pastinya wkwk

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS