Merajut Indonesia - Sejarah & Budaya dalam Novela Platform Digital

Friday, July 1, 2022

Beberapa waktu yang lalu gue baru saja berkenalan dengan Merajut Indonesia.

Jujur saja ketika pertama kali gue mendengar istilah tersebut, reaksi pertama gue dalam hati adalah : duh, tapi kan gue gak bisa merajut! Takutnya nanti jadi yang paling bengong dan kemudian tersisih dari pergaulan nih! *plak*

Sampai akhirnya gue pun memberanikan diri untuk ikut bergabung dan menonton IG Live Bincang Mimdan #8 di akun @merajut_indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2022. Event super berfaedah tersebut dibawakan oleh Evi Sri Rezeki sebagai host dan Eva Sri Rahayu sebagai nara sumber yang membawakan tema Sejarah dan Budaya dalam Novela Platform Digital.

Setelah gue selesai menonton IG Live tersebut tentu saja gue merasa tercerahkan, tapi kemudian mikir lagi : KOK GAK NGEBAHAS TENTANG MERAJUT SIH?!

Tentang Merajut Indonesia

Pertanyaan itulah yang akhirnya membawa gue ke website Merajut Indonesia dan barulah paham.

Ternyata Merajut Indonesia merupakan sebuah program yang diinisiasi oleh PANDI untuk mendigitalisasi aksara Nusantara yang ada di Indonesia dalam bentuk digital sehingga bisa diakses dan dipergunakan di internet melalui gadget seperti laptop atau telfon genggam.

Wah, sungguh sebuah program yang keren sekali dan harus kita dukung bersama nih!

PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia) saat ini mengembangkan website Merajut Indonesia yang diproyeksikan sebagai rujukan bagi pembelajaran aksara nusantara di kemudian hari. Hal ini sebagai salah satu upaya PANDI untuk melestarikan dan mengembangkan aksara nusantara.

Iya juga sih kalo gak segera dibuat dalam versi digital, bisa-bisa aksara nusantara punah karena sulit diakses. Keberadaan Merajut Indonesia merupakan respon terhadap globalisasi dan modernisasi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia. Kita butuh versi digitalnya supaya generasi saat ini bisa mengaplikasikannya dan aksara nusantara tetap lestari.

Kalo bisa sih di-viral-in aja lah! Anak zaman sekarang kan paling bisa tuh bikin konten viral! Justru yang kayak begini nih yang pantas untuk diviralkan, bukannya yang…ah sudahlah hehehe

Sejarah & Budaya dalam Novela Platform Digital

IG Live Bincang Mimdan #8 mengangkat tema yang sangat menarik tentang Sejarah dan Budaya dalam Novela Platform Digital. Ternyata Mimdan tuh merupakan kepanjangan dari Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara. Dan yang gue tonton kemaren udah sesi ke-8 aja lho, harus segera kepo-in sesi 1 sampai 7 di akun @merajut_indonesia nih biar makin manteb.

Secara pribadi gue memang sudah mengenal kembar Evi dan Eva karena kita sama-sama blogger. 

Walau belum sempat membaca novelnya, tapi tentu saja gue juga sudah mengetahui bahwa Eva menulis sebuah novel dengan latar belakang sejarah dan mitologi yang mengambil lokasi di Candi Borobudur dengan judul : Novela Labirin Delapan.

Ketika Eva menceritakan tentang perjuangannya dalam menulis novel, gue sih hanya bisa terkagum-kagum. Sinopsis dari novel tersebut kurang lebih tentang delapan orang yang terjebak di dalam sebuah ruang rahasia di dalam Candi Borobudur dan berusaha untuk membebaskan diri dengan cara memecahkan berbagai misteri di reliefnya.

Kebayang dong harus bisa membangun delapan karakter dengan latar belakang yang berbeda. Kemudian menyusun berbagai misteri untuk dipecahkan. Trus latar belakangnya Candi Borobudur pulak, yang mana harus melakukan berbagai riset sejarah supaya jalan ceritanya bisa dipercaya. Itu sih gue bayanginnya aja udah pengen pingsan duluan hahaha *anaknya lemah*

Berdasarkan penuturan dari Eva, proses riset dan penulisan novel tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2019, lumayan lama juga yah. Untuk bisa mewujudkan ide atau gagasan dalam sebuah karya memang membutuhkan proses panjang. Menurut Eva, ketika ia sedang menyelami sejarah dan kebudayaan untuk menjalani riset, ia jadi bisa turut merasakan jejak-jejak kebudayaan yang pada akhirnya membuat ia bisa bertumbuh.

Tantangan bagi Eva dalam membuat novel dengan latar belakang sejarah adalah mengusahakan agar sejarah dan budaya yang terkandung dalam novel tersebut tidak hanya sekadar tempelan saja, tapi harus mampu menjadi penggerak cerita. Jangan sampai kita hanya menjual budaya, tapi harus banyak isi cerita yang mengisahkan tentang sejarah atau pun mitologinya. Pastinya benar-benar membutuhkan riset yang mendalam yah baik riset lapangan mau pun riset literatur.

Eva juga memberikan tips tentang bagaimana caranya membangun sebuah karakter yang terasa nyata. Menurut Eva dalam penulisan sebuah novel terdapat tiga tulang punggung yang dibutuhkan yaitu : plot, struktur dan karakter.

Untuk bisa membangun sebuah karakter yang nyata buatlah karakter yang memiliki banyak masalah dan kekurangan supaya pembaca bisa merasa simpati. Iya juga sih, semakin tokohnya menderita biasanya semakin kita merasa terikat secara emosional sama si tokoh tersebut yaah haha.

Untuk mengikuti perkembangan zaman, saat ini novel tersebut sudah  bisa diakses melalui platform digital.

Eva merasakan perbedaan antara menerbitkan novel secara konvensional dan secara digital. Menurut Eva proses penulisan novel di platform online harus lebih cepat, tapi bertahap. Ia juga dapat berinteraksi langsung dengan pembaca. Berbeda dengan menerbitkan novel secara konvensional yang mana ketika karyanya sudah terbit ya udah selesai aja dan gak bisa diotak-atik lagi.

Eva juga membahas tentang keberadaan nasib buku cetak setelah tumbuhnya platform online di era digital ini. Menurut Eva, justru saat ini industri penerbitan konvensional sudah mulai banyak yang mendirikan platform online sendiri. Sehingga penerbit tidak menganggap platform online sebagai saingan yang mematikan, tapi transformasi ke arah yang positif.

Platform digital justru membantu menumbuhkan literasi pada masyarakat karena memudahkan akses untuk membaca.

Wah, beneran seru nih Bincang Mimdan #8 karena jadi lebih paham tentang sejarah dan seluk-beluk platform digital. Udah gak sabar deh nungguin Bincang Mimdan yang berikutnya. Kalo ada yang kepo pengen nonton IG live-nya, cus langsung aja melipir ke akun @merajut_indonesia yah!

40 comments:

  1. Bincang-bincangnya bergizi bingits yah. Keren pisan πŸ€©πŸ˜‚πŸ‘ Asyek, seru, tercerahkan yes πŸ€©πŸ˜‚ seruan mana sama drakor? Mending candi Borobudur atau kerajaan Joseon? πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. iya mba, sekarang banyak novelis yang angkat sisi budaya yaa.. dan memang salah satu yg menantang banget itu membangun karakter. susah pol rasanya hahah

    ReplyDelete
  3. Saya senang bisa ikutan di #8 Mimdan ini. Meski malu, Mimdan satu sampai tujuhnya saya kemana aja ya? Hehehe ...
    Semoga bisa ikutan di MIMDAN selanjutnya ya kita

    ReplyDelete
  4. Lihat acara ini jadi kagum deh sama penulis yang berdasarkan budaya dan sejarah ya. Kebayang deh rumit dan lamanya riset buat ceritanya. Aku jadi penasaran dengan novelnya Eva ini. Mau nyari aaah. Kayaknya bakalan suka deh.

    ReplyDelete
  5. Wah aku baru tau ada platform ini semoga generasi muda jadi lebih senang dengan sejarah dan budaya kalau pengemasannya dengan karya2 yg menarik

    ReplyDelete
  6. Teh Eva ini dulu kakak tingkat aku di kampus, keren banget teh Eva ih sekarang, salut. Digitalisasi emang gak terhindarkan ya teh, tapi memang kadanga ada sensasi berbeda kalau kita baca buku digital dan buku cetak.

    ReplyDelete
  7. Wah keren ini acaranya, saya malah suka novel yang seperti ini, genre novel detektif dan ada unsur budayanya. Ternyata yang jadi host dan narsum itu kembaran ya

    ReplyDelete
  8. Widih baca tips membuat karakter nyata melalui berbagai penderitaan ini jadi ilmu baru buatku. Relate yah sama kehidupan, kadang kita merasa paling menderita. Padahal mah biasa aja. Seru deh bincang mimdan #8 ini banyak insight tentang platform digital.

    ReplyDelete
  9. Mbaaak .. belum baca banyak sudah bikin ngakak wkwkwk. Jadi ingat, pernah ada event ngundang blogger. Habis talkshow ada kegiatan merajutnya ... kumenolak ikut soalnya asli gak suka ... berasa tersiksa kalau harus merajut wkwkwk.

    Nah untungnya merajut Indonesia ini istilah saja ya ... bayangin seluas apa yang mau dirajut kalo merajut beneran. :D

    ReplyDelete
  10. Widih jago banget teh Eva bikin novelnya berlatar belakang budaya ya. Udah mundur teratur kalau aku... Kayaknya kalau difilmkan bagus ini. Mudah2an ada yang tertarik ya.

    ReplyDelete
  11. Hmm jadi inget nih. Anakku mau pindah sekolah dan di sekolah barunya ada pelajaran Bahasa Lampung 😁 siap siap ibunya merecall tentang aksara dan bahasanya.

    ReplyDelete
  12. sisi budaya Indonesia memang cantik dan menarik ya mba.. akan sangat baik kalau kita bisa tampilkan dalam berbagai occasions

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jadi penasaraan nih mb... memang banyak hal menarik yang bisa kita gali dari budaya kita yaa

      Delete
  13. Serunya dunia literasi digital, dengan lahirnya semakin banyak platform bacaan, seperti Novelta.
    Yang hobi membaca pun jadi bisa memilih platform favoritnya.

    ReplyDelete
  14. aku pernah nih gagap bahasa daerah pas SD, gara2 pindah dari surabaya ke bandung, jawa timur ke jawa barat wkwkwk

    ReplyDelete
  15. Kyknya emang paling gak mudah membuat tulisan dengan latar belakang sejarah yang katanya beneran ada ya mbak. Kudu melalui banyak riset dulu.
    Banyak yang bisa digali. Kalau Indonesia bikin drama dari tulisan2 gini atau dengan setting kyk drakor saeguk gitu pasti gak kalah mestinya :D

    ReplyDelete
  16. Aku slaah satu pengguna platform gidital untuk membaca dan sepakat banget mbak jika platform digital dpt membantu menumbuhkan literasi pada masyarakat karena memudahkan akses untuk membaca.

    ReplyDelete
  17. Wah, ceritanya menarik banget ya bi, mengangkat sejarah dan budaya. Terlebih lagi ini yang diangkat lokasinya adalah Candi Borobudur. Keren banget, selamata mbak Eva..keep inspiring

    ReplyDelete
  18. Aku tuh baru ja mau komen kok host ama narsumnya mukanya miriiip banget...Eh ternyata emang beneran kembar ya? Aku sering denger nama keduanya di grup blogger, tapi nggak tau kalau kembar. Btw, terobosan dan usaha PANDI buat melestarikan aksara nusantara itu menarik banget. Biar semua kenal lagi gitu. Aku yg orang jawa aja nggak bisa baca aksara jawa...

    ReplyDelete
  19. Ngomongin budaya dan sejarah indonesia termasuk aksara nusantara emang ga ada habisnya mba, sayangnya kadang penyampaian kurang menarik jd generasi muda lebih tertarik sama budaya lain. Coba deh nanti saya juga pengen ikut live IGnya mudah2an cara penyampaiannya seru jd kita tertarik utk mendalami lebihπŸ™πŸ˜

    ReplyDelete
  20. Keren ini tema bincang Merajut Indonesia-nya.
    Salut pada Mba Eva yang mampu menjadikan latar belakang sejarah dan budaya tidak hanya sekadar tempelan saja, tapi juga menjadi penggerak cerita.
    Jadi penasaran baca novelnya

    ReplyDelete
  21. Seru banget ini bincang-bincangnya tentang sejarah dan budaya, kalau aku tuh selalu tertarik kalau ngobrolin budaya karena sudah pasti akan menarik dan akhirnya banyak tau juga keragaman budaya.

    ReplyDelete
  22. Sisi budaya Indonesia ru menarik banget kalo dijadikan latar ya mbak dan ga sembarang latar asal nempel harus pake riset spy latqrnya hidup. Aku suka novel dng latar sejarah kebayang penulisnya butuh effort bgt ga hanya.mengjidupkan kqrakter tapu.latqr sejqrahnya juga harua bisa dipertqnggungjawabkan

    ReplyDelete
  23. Ketika sejarah dan budaya diangkat pula dalam sebuah novel, kebayang betapa ada sensasi berbeda saat membacanya. Sambil membaca novel, ya sambil belajar sejarah dan budaya Indonesia juga.

    ReplyDelete
  24. Karena kenal baik sama Eva fsn bareng hafir fi launching salah satu product Sido Muncul dan lunch bareng Pemilik Sido Muncul langsung ah menuju @merajut_indonesia.

    ReplyDelete
  25. Aku selalu kagum dengan para penulis novel yang bisa memasukan unsur sejarah dan budaya dalam ceritanya. Seperti Gadis Pakarena karya Daeng Khrisna Pabichara itu menjadi salah satu novel pertama yang aku baca. Langsung jatuh cinta. Nah, kayaknya novel karya Mba Eva ini wajib aku masukin list bacaan deh.

    ReplyDelete
  26. Sejak marak penulisan novel di platform online, saya pun sempat ikut merasa sedih dan kasihan sama industri penerbitan konvensional. Tapi syukurlah sekarang penerbit konvensional itu juga sudah mulai banyak yang mendirikan platform online sendiri ya. Gak lagi merasa telah mati tapi sudah bertransformasi ke arah yang positif.

    ReplyDelete
  27. alhamdulillah jadi ini bukan merajut benang gitu yaa tapi belajar budaya Indonesia melalui novel yang ditulis Teh Eva. Aih ... kece amat ini novel mengangkat setting di Candi Borobudur. Belajar sejarah dan kekayaan Indonesia melalui baca novel.

    ReplyDelete
  28. Nulis novel itu memang butuh effort yang besar. Risetnya kadang lamaa..saluut, deh!
    Jadi penasaran dengan novel dengan latar belakang Candi Borobudurnya

    ReplyDelete
  29. Mba Eva ini keren banget. Bikin novel dengan latar belakang Candi Borobudur. Yang mana dalam penulisan novelnya riset dulu. Risetnya juga gak main-main, dimulai dari tahun 2019.

    ReplyDelete
  30. Wkwkwk.. Asli pertama saya sudah menduga cerita tentang merajut kata dari novelis, tapi pas baca atasnya mba sebut merajut kerajinan tangan.. Sempat terkecoh juga. Eh endingnya bener kaan ttg novelis cerita borobudur.

    ReplyDelete
  31. Bagus banget acaranya. Memang ya budaya nusantara termasuk aksara nusantara harus dilestarikan. Biar nggak hilang. Di Jogja juga mulai ada nih penggerak aksara jawa. Komunitas ini mengajak generasi muda mengenal dan mau mempelajari aksara jawa.

    ReplyDelete
  32. Aku pikir tadinya komunitas merajut benang gitu hihihi ternyata bukan. Ternyata ini platform digital untuk digitalisasi aksara, bagus juga ya

    ReplyDelete
  33. Ini karya teh Eva ya,teh,?
    Duo kembar panutan ini. Sama sama senang menulis kisah sejarah ya
    Kalau teh Evi nulis novel sejarah juga

    ReplyDelete
  34. Uhhh, Teteh kembar ini panutan bangeett dah.
    Selalu bangga dgn capaian dan kiprah mereka, apalagi ini menjabarkan seputar PANDI, aselik milenial dan Gen Z wajiiibb buat viraliin

    ReplyDelete
  35. Program mendigitalisasi aksara Nusantara ini menurutku sangat keren. Jujur selama gak sekolah, aku tuh lupa aksara Jawa. Jadi pas keponakan belajar, aku ikut belajar lagi. Jangan sampai gak bisa dan malah punah ya kan

    Btw soal novelnya Mbak Eva ini, nanti kucek deh

    ReplyDelete
  36. Waah kegiatannya positid sekali, sarat akan ilmu. Sukaak kalau kita banyak menghasilkan karya yang berhubungan dengan kebudayaan kita yang beragam dan masih di lestarikan.

    ReplyDelete
  37. Terobosan baru ya sekarang, makin banyak orang memilih platform digital untuk membaca novel. Semoga karya Eva banyak diminati ya. Kebayang deh risetnya tentang latar belakang tempatnya. Keren banget deh.

    ReplyDelete
  38. Begitu baca judul, saya udah mikir yah engga bisa merajut deh saya, hehe ... Kerennya Teh Eva bikin novel berlatar belakang budaya. Pasti engga mudah tapi dia bisa bikinnya. Jadi penasaran pengen baca novelnya.

    ReplyDelete
  39. Aku mulai berpikir ketika membaca judul merajut Indonesia, apakah merajutnya melalui kata. Pokoknya mah keren teh sekarang jaman digital harus kita sesuaikan ya, menulis novel pun by digital

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS