Selasa, 23 Juni 2015

Belajar Membaca & Menulis

Gak terasa, Fathir sekarang sudah mulai beranjak dewasa!*gejala-gejala mau nge-lebay*

Waktu terasa berjalan sangat cepat, …

Dan tanpa gue sadari, tiba-tiba saja Fathir sudah bisa mandi & makan sendiri, juga memakai seragam & sepatu sendiri kalau mau sekolah.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, Fathir sudah berhasil mengucapkan huruf ‘R’ dan dia pun merasa sangat bangga karenanya. Alhasil dia mendadak pamer dan jadi menyelipkan huruf ‘R’ hampir di setiap ucapannya.
Urar , bora, marin, rapar, maras (ular, bola, main, malas)

Pokoknya jadi maksa banget, dan emaknya pun gak ngerti sebenernya anak ini lagi ngomong apaan!

Aku udah gede!
Aku udah gede!


Beberapa hari yang lalu Fathir mengikuti psikotes di sekolahnya. Dia pun bercerita panjang lebar, katanya ibu guru psikotes-nya baik banget dan banyak bertanya ini-itu sama Fathir. Dan di akhir sesi Fathir diminta untuk menggambar sesuatu yang pada saat itu berada dalam pikirannya. Bebas aja.

Ketika gue tanya dia gambar apa, dengan polos Fathir menjawab bahwa dia menggambar…ee (sori)…

Duh Gusti nu Agung!

Entahlah akan seperti apa hasil psikotes anak gue yang segitu nekadnya menggambar kotoran manusia ketika diminta untuk menggambar apa yang ada di pikirannya!!
Gue kok mendadak jadi males mau mengambil hasil tes-nya takut ditanya macem-macem sama ibu psikolognya…bhuahahaha….

Belajar Membaca

Fathir sebentar lagi akan berusia 6 tahun dan sekarang sudah duduk di TK B. Harusnya sih tahun ini masuk SD.

Tapi..tapi…sampai saat ini Fathir masih belum lancar membaca dan menulis.

Setiap pulang sekolah, Fathir selalu bersemangat bercerita sama gue, dia main apa aja selama di sekolah. Dia mengobrol ini-itu sama si A dan si B. Membahas mainan dan film A dan B.

Tapi ketika gue tanya hari ini belajar apa aja, atau menulis huruf apa aja, dia langsung melengos dan pura-pura gak mendengar pertanyaan gue!

Ampun deh!

Apa lagi saat ini Fathir sudah mulai belajar menulis huruf sambung yang memang agak sulit karena melingkar-lingkar gitu, dan dia mentok di huruf B sambung aja gitu lho…bhuahahaha..

Fathir sudah bisa sih membaca beberapa kata yang sederhana seperti : bola, meja, tembok, pokoknya yang gampang2 sih udah bisa, tapi ya gitu deh, kalau disuruh membaca, gayanya selalu malas-malasan.

Menemani Fathir membuat PR merupakan ujian tersendiri buat gue. Pokoknya benar-benar menguji
kesabaran gue banget lah!

Maksudnya sih mau nulis huruf Q tapi ya gitu deh,...
Maksudnya sih mau nulis huruf Q tapi ya gitu deh,…

Berbeda banget sama Kayla yang dari TK A sudah lancar menulis namanya sendiri. Bahkan ketika kelas 1 SD Kayla sudah gemar sekali menulis. Tapi berbeda dengan gue yang sukanya membuat cerita non fiksi dengan genre lucu-lucu gak jelas, Kayla dulu hobi banget menulis cerita fiksi dengan ending yang tragis…bhuahahaha…

Cerita tentang Kayla pernah gue posting di ; Belajar Menulis

Dapet PR menulis cangkir, ngerjainnya lamaaaa banget...
Dapet PR menulis cangkir, ngerjainnya lamaaaa banget…

Tapi konon katanya, kita kan memang tidak boleh membandingkan anak-anak sendiri yah.
Jadi setelah berdiskusi dengan Abah dan ibu gurunya di sekolah, kita pun mengambil kesimpulan bahwa Fathir memang masih kepengen main-main dan belum ada keinginan untuk belajar.

Karena selama ini Alhamdulillah Fathir memang gak ada masalah apa-apa baik di sekolah maupun di rumah yang menyebabkan dia stress atau gimana gitu bahkan ia selalu bersemangat untuk pergi sekolah dan bermain sama teman-temannya.

Sepertinya Fathir memang pada dasarnya belum suka dan belum termotivasi untuk belajar saja.
Jadi daripada gue memaksakan Fathir untuk les membaca & menulis padahal mentalnya masih belum siap, gue & Abah pun sepakat untuk membiarkan Fathir 1 tahun lagi saja di TK dan masuk SD-nya tahun depan saja.

Biar dia puas-puasin main dulu di TK deh, gue yakin kok Fathir sebenernya bisa, tapi dia hanya masih butuh waktu saja.

Gue akan sabar menunggu sembari tetap memotivasi Fathir supaya lebih semangat lagi belajar membaca & menulisnya.

Belajar Sepeda

Fathir mulai belajar mengendarai sepeda roda 2 ketika ia masih berusia sekitar 4 tahun dan masih belum sekolah.

Pada saat itu, hampir semua teman-teman se-geng-nya sudah bisa menaiki sepeda roda 2, hanya Fathir saja yang masih belum bisa, sehingga gue pun membantu Fathir untuk belajar naik sepeda roda 2.

Dan ternyata GAGAL TOTAL!

Gue membantu Fathir naik sepeda roda 2 setiap sore dengan cara menuntunnya dari belakang, sementara dia mengayuh pedal. Tapi Fathir ini ngeselin banget, karena dia tidak pernah mau gue lepas, dan selalu takut jatuh.

Lah, gue kan capek megang dia terus2an sembari lari2 di belakangnya, sementara dia selalu ketakutan dan gak mau gue lepas!

Akhirnya pada saat itu dia gue omel-omelin!

Iya, saat itu gue memang emosi!

Dan akhirnya anaknya jadi ngambek dan gak mau belajar naik sepeda roda 2 lagi!

Aku pun menyesal…

Fathir sepertinya beneran sakit hati sama gue karena dia benar-benar gak bisa dibujuk dengan cara apapun. Padahal gue sudah minta maaf dan berjanji gak bakalan ngomel lagi kalau menemani dia belajar naik sepeda, tapi Fathir tetap keukeuh gak mau!

Gue bahkan sudah merayunya dengan permen yupi, momogi, coklat bahkan eskrim, dia tetap tak bergeming.
*padahal biasanya Fathir paling murahan dan mau-an kalo dibujuk pake permen yupi lho*

Gue sudah mengerahkan Abah dan teteh Kayla untuk mengajarkan Fathir naik sepeda dan bahkan mengiming-iming dia hadiah apabila berhasil, tapi Fathir tetap gak mau!

Sepertinya dia berprinsip bahwa naik sepeda roda 2 itu tidak penting dan bukanlah hal yang bermakna dalam kehidupan ini!

Itu salah anakku sayang!

Kegiatan kurang penting dan tak bermakna dalam kehidupan ini adalah menyetrika,sedangkan naik sepeda roda 2 mah penting!

Sampai Fathir masuk sekolah di TK A, dia masih belum mau belajar naik sepeda, bahkan ketika dia sudah duduk di TK B pun, ia masih tetap bertahan untuk tidak mau belajar naik sepeda.

Hati gue teriris setiap kali teman-teman Fathir asyik bermain sepeda, sedangkan Fathir berlari kesana-kemari memakai topi dan bawa-bawa peluit karena ia bertugas menjadi…tukang parkir.

Gue merasa sangat-sangat bersalah.

Hidup terasa lebih mudah dan sederhana ketika mereka masih memakai sepeda roda 3 don roda 4 saja!
Hidup terasa lebih mudah dan sederhana ketika mereka masih memakai sepeda roda 3 don roda 4 saja!

Sampai akhirnya kira-kira beberapa minggu yang lalu,…

Gue terperanjat karena tiba-tiba saja gue melihat Fathir BERHASIL mengendarai sepeda roda 2 milik salah seorang temannya.

KOK BISA SIH?!!

Saking penasaran, saat itu juga Fathir langsung gue panggil dan interogasi, siapakah yang berhasil ngajarin Fathir belajar naik sepeda roda 2?

Ternyata Fathir diajari naik sepeda oleh temannya sendiri! Salah satu tetangga gue!

Akhirnya Fathir berhasil juga! Pulang mengaji dan belum berganti baju langsung semangat main sepeda!
Akhirnya Fathir berhasil juga! Pulang mengaji dan belum berganti baju langsung semangat main sepeda!

Introspeksi!

Teman Fathir yang berhasil mengajarinya naik sepeda adalah teman Fathir yang pernah gue ceritakan di postingan : Penyempitan Makna.

Mereka bersahabat sejak bayi dan sering sekali bertengkar. Setiap kali bertengkar lumayan parah, main dorong-dorongan kadang sampai tonjok-tonjokan. Tapi 10 menit kemudian sudah ketawa-ketawa lagi..hehehe…

Fathir & sahabatnya!
Fathir & sahabatnya!

Mungkin Fathir merasa lebih nyaman diajari oleh sahabatnya, karena ia tidak merasa terbebani.
Dan gue langsung instropeksi dan merasa malu sendiri, karena mungkin sikap gue yang selama ini tidak sabaran membuat Fathir jadi merasa terbebani.

Maafin Mama yah Fathir…

Kejadian belajar naik sepeda itu benar-benar merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi gue.
Gue belajar untuk lebih memahami Fathir, dan berusaha untuk tidak memaksakan kehendak gue yang pada akhirnya membuat Fathir merasa terbebani.

Makanya ketika gue menghadapi kasus Fathir yang malas-malasan belajar membaca & menulis, gue berusaha untuk menyikapinya dengan lebih bijak.

Gue memutuskan untuk memberikan ruang & waktu untuk Fathir.

Dan Insya Allah gue pun akan berusaha untuk lebih sabar lagi menjadi seorang ibu.

Masih belajar untuk menjadi ibu yang lebih sabar :)
Masih belajar untuk menjadi ibu yang lebih sabar :)

Mencurigakan

Beberapa minggu belakangan ini terjadi kejadian yang sedikit mencurigakan.
Tiba-tiba saja Fathir jadi rajin belajar.

Dia mulai giat mengerjakan PR dan tidak malas-malasan lagi kalau disuruh belajar membaca.
Gue sih senang-senang saja, walaupun agak penasaran. Gue juga memperhatikan Fathir pernah bisik-bisik sama teteh Kayla minta untuk dituliskan sesuatu.

Akhirnya perlahan-lahan gue pun mulai memancing Fathir untuk bercerita, apa yang sebenarnya terjadi. Dan setelah mendengar cerita Fathir, gue hampir tak kuat untuk menahan tawa…bhuahahaha…
Ternyata ada salah seorang teman sekolah Fathir, yang suka mengirim surat sama Fathir *CEWEK tentu saja*

Dan selama ini Fathir selalu menolak suratnya. Dan Fathir sedang bisik-bisik sama teteh Kayla karena mencoba menulis surat kepada sang cewek dan menuliskan kata ‘maaf’ karena selama ini gak mau menerima suratnya….bhuahahaha…

YA IYA LAH KAGAK PERNAH DITERIMA SURATNYA, ORANG BELUM BISA BACA!!

Ketika mendengar cerita Fathir sih, gue manggut-manggut dengan ekspresi sangat serius, tapi dalam hati gue benar-benar gak kuat menahan tawa…bhuahahaha….

Yah, apapun motivasi Fathir untuk belajar membaca, gue sih bersyukur aja deh, entahlah akan bertahan berapa lama semangatnya ini.

Buat yang kepo dan penasaran sama cewek yang dimaksud, boleh mampir ke postingan : Marching Band yah. Dia adalah sang cewek majoret yang pernah gue pajang fotonya di postingan tersebut.
Mohon doa dari Om & Tante aja supaya Fathir bisa semangat terus belajar membaca & menulisnya yah!

Bandung, 27 April 2015

Note : Postingan ini merupakan pidahan dari blog lama gue, buat yang pengen baca komentar untuk postingan ini silahkan mampir kesini yah :)



1 komentar:

 

Blog Template by BloggerCandy.com